Kau tolak cinta suciku
Kau tolak cinta suciku, karna ada dia....
Orang yang lebih ganteng daripada aku....
Tetapi aku melihat dari raut wajamu,bawa benih cinta itu bukan untuk dia....
Tapi buat aku......
Karna ku tau,kau adalah malaikat ku......
Dan kau membawakan benih cinta itu juga kepadaku.....
Dan kini,ku menanam benih cinta ini dalam hatiku.....
Keesokan harinya,kini berbuah cinta juga......
Cinta.
Cinta dan benci..
hanyalah sebua garis tipis,
Antara buta melihat kesalahan,
Kesal yang tak perlu..
Di permasalahkan.
Diantara hingar bingar dunia,
terasa sunyi senyap.
Jika tanpa hadirmu..
disisiku.
Ruang dan waktu,
seakan tak ada yang berubah.
Mungkin semua itu butuh..
jeda.
Jika lelah rehatla sejenak,
Pejamkan matamu,
Sekedar pelepas penat.
Biar ku hapus lelahmu dengan..
Doaku.
Tak ada pasangan sempurna,
tetapi bagaimana Hondanya,
Saling..
Menyempurnakan.
Kamu tempat ku pulang,
bertukar rasa maupun cerita.
tak ada lagi yang lebih teduh,
melainkan menghabiskan waktu..
Denganmu.
Waktu kan membuat luka,
Berubah menjadi kekuatan.
Sejatinya dalam hidup harus,
Merasakan ujian terlebih dulu.
Sehingga bisa lebih merasakan..
Bersyukur.
Sang waktu..
begitu pekat dalam ingatan,
Tak ada yang pergi.
hanya sejenak mengurai..
Mimpi.
DESEMBER KU
Desemberku di rantau,jau dari keluarga.....
Desemberku kapan kau antarkan rinduku ini pada keluarga
Desemberku mengapa kau tak bersuara,aku kesepian
Tidak mendengar bunyi-bunyian tembakan petasan cinta........
Aku merindu....
Desember ku,yang berlalu.....
Kini ku bersedih......
Di desember kerinduan ini,membuat aku merindu keluarga......
Daun hijau
Hijau daun ini, helok dan cantik, tak bisa aku tapik....
Hijau daunnya yang mewarnai hutan rimbah serta isinya..
Hijau daunnya tempat dimana aku bertedu dengan sekumpulan warga pembawa berkat cinta....
JENUH MENDENGAR
Jenuh aku mendengar kabar gembiramu,entah kenapa aku merasah jenuh,dengar kabar gembiramu ini.
Jenuh ini mungkin merasah bersalah karna telah mencintaimu...
Andai iya berkata roh kepadamu,kamu enggak akan paham
Apa yang iya berkata.....
Jenuh hati ini berterimakasih bisa bersama mu sepanjang hidupku yang palsu.....
Hikmat Tuhan.
Dengan hikmat Tuhan telah meletakkan dasar bumi, dengan pengertian ditetapkan-Nya langit, dengan pengetahuan-Nya air samudera raya berpencaran dan awan menitikkan embun.
Hai anakku, janganlah pertimbangan dan kebijaksanaan itu menjauh dari matamu, peliharalah itu, maka itu akan menjadi kehidupan bagi jiwamu, dan perhiasan bagi lehermu.
Maka engkau akan berjalan di jalanmu dengan aman, dan kakimu tidak akan terantuk.
Jikalau engkau berbaring, engkau tidak akan terkejut, tetapi engkau akan berbaring dan tidur nyenyak.
Janganlah takut kepada kekejutan yang tiba-tiba, atau kepada kebinasaan orang fasik, bila itu datang.
Karena Tuhan lah yang akan menjadi sandaranmu, dan akan menghindarkan kakimu dari jerat.
Bumi itu
Bumi telah diserahkan ke dalam tangan orang fasik, dan mata para hakimnya telah ditutup-Nya; kalau bukan oleh Dia, oleh siapa lagi?
Hari-hariku berlalu lebih cepat dari pada seorang pelari, lenyap tanpa melihat bahagia,
meluncur lewat laksana perahu dari pandan, seperti rajawali yang menyambar mangsanya.
Bila aku berpikir: Aku hendak melupakan keluh kesahku, mengubah air mukaku, dan bergembira,
Seperti salju
Seperti salju di musim panas dan hujan pada waktu panen, demikian kehormatan pun tidak layak bagi orang bodoh.
Seperti burung pipit mengirap dan burung layang-layang terbang, demikianlah kutuk tanpa alasan tidak akan kena.
Cemeti adalah untuk kuda, kekang untuk keledai, dan pentung untuk punggung orang bodoh.
Jangan menjawab orang bodoh menurut kebodohannya, supaya jangan engkau sendiri menjadi sama dengan dia.
Jawablah orang bodoh menurut kebodohannya, supaya jangan ia menganggap dirinya bijak.
Siapa mengirim pesan dengan perantaraan orang bodoh mematahkan kakinya sendiri dan meminum kecelakaan.
Langit di mulut orang bodoh adalah seperti kaki yang terkulai dari pada orang yang lumpuh.
Seperti orang menaruh batu di umban, demikianlah orang yang memberi hormat kepada orang bodoh.
Langit di mulut orang bodoh adalah seperti duri yang menusuk tangan pemabuk.
Seperti anjing demikian orang bebal
Seperti anjing kembali ke muntahnya, demikianlah orang bodoh yang mengulangi kebodohannya.
Jika engkau melihat orang yang menganggap dirinya bijak, harapan bagi orang bodoh lebih banyak dari pada bagi orang itu.
Berkatalah si pemalas: "Ada singa di jalan! Ada singa di lorong!"
Seperti pintu berputar pada engselnya, demikianlah si pemalas di tempat tidurnya.
Si pemalas mencelupkan tangannya ke dalam pinggan, tetapi ia terlalu lelah untuk mengembalikannya ke mulutnya.
Si pemalas menganggap dirinya lebih bijak dari pada tujuh orang yang menjawab dengan bijaksana.
Orang yang ikut campur dalam pertengkaran orang lain adalah seperti orang yang menangkap telinga anjing yang berlalu.
Seperti orang gila menembakkan panah api, panah dan maut,
demikianlah orang yang memperdaya sesamanya dan berkata: "Aku hanya bersenda gurau."
Bila kayu habis, padamlah api; bila pemfitnah tak ada, redalah pertengkaran.
Seperti arang untuk bara menyala dan kayu untuk api, demikianlah orang yang suka bertengkar untuk panasnya perbantahan.
Seperti sedap-sedapan perkataan pemfitnah masuk ke lubuk hati.
Seperti pecahan periuk bersalutkan perak, demikianlah bibir manis dengan hati jahat
Terang menjadi gelap
Terang di dalam kemahnya menjadi gelap, dan pelita di atasnya padam.
Langkahnya yang kuat terhambat, dan pertimbangannya sendiri menjatuhkan dia.
Karena kakinya sendiri menyangkutkan dia dalam jaring, dan di atas tutup pelubang ia berjalan.
Tumitnya tertangkap oleh jebak, dan ia tertahan oleh jerat.
Tali tersembunyi baginya dalam tanah, perangkap terpasang baginya pada jalan yang dilaluinya.
Kedahsyatan mengejutkan dia di mana-mana, dan mengejarnya di mana juga ia melangkah.
Bencana mengidamkan dia, kebinasaan bersiap-siap menantikan dia jatuh.
Kulit tubuhnya dimakan penyakit, bahkan anggota tubuhnya dimakan oleh penyakit parah.
Ia diseret dari kemahnya, tempat ia merasa aman, dan dibawa kepada raja kedahsyatan.
Dalam kemahnya tinggal apa yang tidak ada sangkut pautnya dengan dia, di atas tempat kediamannya ditaburkan belerang.
pengadilan."
Pengakuan kepada Hilai
Kasihanilah aku, kasihanilah aku, hai sahabat-sahabatku, karena tangan sang pencipta telah menimpa aku.
Mengapa kamu mengejar aku, seakan-akan Tuhan, dan tidak menjadi kenyang makan dagingku?
Ah, kiranya perkataanku ditulis, dicatat dalam buku sucih,
terpahat dengan besi pengukir dan timah pada gunung batu untuk selama-lamanya!
Tetapi aku tahu: Penebusku hidup, dan akhirnya Ia akan bangkit di atas debu.
Juga sesudah kulit tubuhku sangat rusak, tanpa dagingku pun aku akan melihat Tuhan,
yang aku sendiri akan melihat memihak kepadaku; mataku sendiri menyaksikan-Nya dan bukan orang lain. Hati sanubariku merana karena rindu.
Kalau kamu berkata: Kami akan menuntut dia dan mendapatkan padanya sebab perkaranya!,
takutlah kepada pedang, karena kegeraman mendatangkan hukuman pedang, agar kamu tahu, bahwa ada pengadilan."
Pedih Hati
Mataku menjadi kabur karena pedih hati, segala anggota tubuhku seperti bayang-bayang.
Orang-orang yang jujur tercengang karena hal itu, dan orang yang tidak bersalah naik pitam terhadap orang fasik.
Meskipun begitu orang yang benar tetap pada jalannya, dan orang yang bersih tangannya bertambah-tambah kuat.
Tetapi kamu sekalian, silakan datang kembali! Seorang yang mempunyai hikmat takkan kudapati di antara kamu!
Umurku telah lalu, telah gagal rencana-rencanaku, cita-citaku.
Malam hendak dijadikan mereka siang: terang segera muncul dari gelap, kata mereka.
Apabila aku mengharapkan dunia orang mati sebagai rumahku, menyediakan tempat tidurku di dalam kegelapan,
dan berkata kepada liang kubur: Engkau ayahku, kepada berenga: Ibuku dan saudara perempuanku,
maka di manakah harapanku? Siapakah yang melihat adanya harapan bagiku?
Keduanya akan tenggelam ke dasar dunia orang mati, apabila kami bersama-sama turun ke dalam debu...
Pikiran-pikiranku
Maka marselus, orang Amae, menjawab:
"Oleh sebab itulah pikiran-pikiranku mendorong aku menjawab, karena hatiku tidak sabar lagi.
Kudengar teguran yang menghina aku, tetapi yang menjawab aku ialah akal budi yang tidak berpengertian.
Belumkah engkau mengetahui semuanya itu sejak dahulu kala, sejak manusia ditempatkan di bumi,
bahwa sorak-sorai orang fasik hanya sebentar saja, dan sukacita orang durhaka hanya sekejap mata?
Walaupun keangkuhannya sampai ke langit dan kepalanya mengenai awan,
namun seperti tahinya ia akan binasa untuk selama-lamanya; siapa yang pernah melihatnya, bertanya: Di mana dia?
Bagaikan impian ia melayang hilang, tak berbekas, lenyap bagaikan penglihatan waktu malam....
Kekosongan Dunia
Nikia membentangkan utara di atas kekosongan, dan menggantungkan dunia pada kehampaan.
Ia membungkus air di dalam awan-Nya, namun awan itu tidak robek.
Ia menutupi pemandangan takhta-Nya, melingkupinya dengan awan-Nya.
Ia telah menarik garis pada permukaan air, sampai ujung perbatasan antara terang dan gelap;
tiang-tiang langit bergoyang-goyang, tercengang-cengang oleh hardik-Nya.
Ia telah meneduhkan laut dengan kuasa-Nya dan meremukkan Rahab dengan
kebijaksanaan-Nya.
Oleh nafas-Nya langit menjadi cerah, tangan-Nya menembus ular yang tangkas.
Sesungguhnya, semuanya itu hanya ujung-ujung jalan-Nya; betapa lembutnya bisikan yang kita dengar dari pada-Nya!
Siapa dapat memahami guntur kuasa-Nya?"
Tidak ada harapan bagi orang Fasik
Maka langit melanjutkan uraiannya:
"Demi Bapa yang hidup, yang tidak memberi keadilan kepadaku, dan demi Yang Maha Nikia , yang memedihkan hatiku,
Selama nafasku masih ada padaku, dan roh Tuhan masih di dalam lubang hidungku,
maka bibirku sungguh-sungguh tidak akan mengucapkan kecurangan, dan lidahku tidak akan melahirkan tipu daya.
Aku sama sekali tidak membenarkan kamu!
Sampai binasa aku tetap mempertahankan bahwa aku tidak bersalah.
Kebenaranku kupegang teguh dan tidak kulepaskan; hatiku tidak mencela sehari pun dari pada umurku.
Biarlah musuhku mengalami seperti orang fasik, dan orang yang melawan aku seperti orang yang curang.
Sengsara dan Miskin
Pada parak siang bersiaplah si pembunuh, orang sengsara dan miskin dibunuhnya, dan waktu malam ia berlaku seperti pencuri.
Orang yang berzinah menunggu senja, pikirnya: Jangan seorang pun melihat aku; lalu dikenakannya tudung muka.
Di dalam gelap mereka membongkar rumah, pada siang hari mereka bersembunyi; mereka tidak kenal terang,
karena kegelapan adalah pagi hari bagi mereka sekalian, dan mereka sudah biasa dengan kedahsyatan kegelapan.
Mereka hanyut di permukaan air, bagian mereka terkutuk di bumi; mereka tidak lagi pergi ke kebun anggur mereka.
Air salju dihabiskan oleh kemarau dan panas, demikian juga dilakukan dunia orang mati terhadap mereka yang berbuat dosa.
Rahim ibu melupakan dia, berenga mengerumitnya, ia tidak diingat lagi: kecurangan dipatahkan seperti pohon kayu.
Turun ke kuburan
siapa yang luput dari padanya, akan turun ke kubur karena wabah, dengan tidak ditangisi oleh janda mereka.
Jikalau ia menimbun uang seperti debu banyaknya, dan menumpuk pakaian seperti tanah liat,
sekalipun ia yang menumpuknya, namun orang benar yang akan memakainya, dan orang yang tidak bersalah yang akan membagi-bagi uang itu.
Ia mendirikan rumahnya seperti sarang laba-laba, seperti gubuk yang dibuat penjaga.
Sebagai orang kaya ia membaringkan diri, tetapi tidak dapat ia mengulanginya: ketika ia membuka matanya, maka tidak ada lagi semuanya itu.
Kedahsyatan mengejar dia seperti air bah, pada malam hari ia diterbangkan badai;
angin timur mengangkatnya, lalu lenyaplah ia; ia dilemparkannya dari tempatnya.
Dengan tak kenal belas kasihan Allah melempari dia, dengan cepat ia harus melepaskan diri dari kuasa-Nya.
Oleh karena dia orang bertepuk tangan, dan bersuit-suit karena dia dari tempat kediamannya."
Lukisan tentang buaya
"Dapatkah engkau menarik buaya dengan kail, atau mengimpit lidahnya dengan tali?
Dapatkah engkau mengenakan tali rotan pada hidungnya, mencocok rahangnya dengan kaitan?
Mungkinkah ia mengajukan banyak permohonan belas kasihan kepadamu, atau berbicara dengan lemah lembut kepadamu?
Mungkinkah ia mengikat perjanjian dengan engkau, sehingga engkau mengambil dia menjadi hamba untuk selama-lamanya?
Dapatkah engkau bermain-main dengan dia seperti dengan burung, dan mengikat dia untuk anak-anakmu perempuan?
Mungkinkah kawan-kawan nelayan memperdagangkan dia, atau membagi-bagikan dia di antara pedagang-pedagang?
Dapatkah engkau menusuki kulitnya dengan serampang, dan kepalanya dengan tempuling?
Letakkan tanganmu ke atasnya! Ingatlah pertarungannya! — Engkau takkan melakukannya lagi!
Sesungguhnya, harapanmu hampa! Baru saja melihat dia, orang sudah terbanting.
Orang yang nekat pun takkan berani membangkitkan marahnya. Siapakah yang dapat bertahan di hadapan Aku?
Siapakah yang menghadapi Aku, yang Kubiarkan tetap selamat? Apa yang ada di seluruh kolong langit, adalah kepunyaan-Ku.
Aku tidak akan berdiam diri tentang anggota-anggota badannya, tentang keperkasaannya dan perawakannya yang tampan.
Siapakah dapat menyingkapkan pakaian luarnya? Baju zirahnya yang berlapis dua, siapakah dapat menembusnya?
Siapa dapat membuka pintu moncongnya? Di sekeliling giginya ada kengerian.
Punggungnya adalah perisai-perisai yang bersusun, terlekat rapat seperti meterai.
Rapat hubungannya yang satu dengan yang lain, sehingga angin tidak dapat masuk;
yang satu melekat pada yang lain, bertautan tak terceraikan lagi.
Bersinnya menyinarkan cahaya, matanya laksana merekahnya fajar.
Dari dalam mulutnya keluar suluh, dan berpancaran bunga api.
Dari dalam lubang hidungnya mengepul uap bagaikan dari dalam belanga yang mendidih dan menggelegak isinya.
Nafasnya menyalakan bara, dan nyala api keluar dari dalam mulutnya.
Di dalam tengkuknya ada kekuatan; ketakutan berlompatan di hadapannya.
Tuhan tempat Perlindungan ku
Untuk pemimpin biduan.Dari mar.
Pada wenako patea aku berlindung, bagaimana kamu berani berkata kepadaku:
"Terbanglah ke gunung seperti burung!"
Sebab, lihat orang fasik melentur busurnya, mereka memasang anak panahnya pada tali busur, untuk memanah orang yang tulus hati di tempat gelap.
Apabila dasar-dasar dihancurkan, apakah yang dapat dibuat oleh orang benar itu?
Nikia ada di dalam bait-Nya yang kudus;
Wenako, takhta-Nya di sorga; mata-Nya mengamat-amati, sorot mata-Nya menguji anak-anak manusia.
Wenako menguji orang benar dan orang fasik, dan Ia membenci orang yang mencintai kekerasan.
Ia menghujani orang-orang fasik dengan arang berapi dan belerang; angin yang menghanguskan, itulah isi piala mereka.
Sebab Paitua adalah adil dan Ia mengasihi keadilan; orang yang tulus akan memandang wajah-Nya.
Kemuliaan Wenako di dalam semesta
"Sungguh, oleh karena itu hatiku berdebar-debar dan melonjak dari tempatnya.
Dengar, dengarlah gegap gempita suara-Nya, guruh yang keluar dari dalam mulut-Nya.
Ia melepaskannya ke seluruh kolong langit, dan juga kilat petir-Nya ke ujung-ujung bumi.
Kemudian suara-Nya menderu, Ia mengguntur dengan suara-Nya yang megah; Ia tidak menahan kilat petir, bila suara-Nya kedengaran.
Allah mengguntur dengan suara-Nya yang mengagumkan; Ia melakukan perbuatan-perbuatan besar yang tidak tercapai oleh pengetahuan kita;
karena kepada salju Ia berfirman: Jatuhlah ke bumi, dan kepada hujan lebat dan hujan deras: Jadilah deras!
Tangan setiap manusia diikat-Nya dengan dibubuhi meterai, agar semua orang mengetahui perbuatan-Nya.
Maka binatang liar masuk ke dalam tempat persembunyiannya dan tinggal dalam sarangnya.
Taufan keluar dari dalam perbendaharaan, dan hawa dingin dari sebelah utara.
Oleh nafas Allah terjadilah es, dan permukaan air yang luas membeku.
Awan pun dimuati-Nya dengan air, dan awan memencarkan kilat-Nya,
lalu kilat-Nya menyambar-nyambar ke seluruh penjuru menurut pimpinan-Nya untuk melakukan di permukaan bumi segala yang diperintahkan-Nya.
Ia membuatnya mencapai tujuannya, baik untuk menjadi pentung bagi isi bumi-Nya maupun untuk menyatakan kasih setia.
Berilah telinga kepada semuanya itu, hai Ayub, diamlah, dan perhatikanlah keajaiban-keajaiban Allah.
Tahukah engkau, bagaimana Allah memberi tugas kepadanya, dan menyinarkan cahaya dari awan-Nya?
Tahukah engkau tentang melayangnya awan-awan, tentang keajaiban-keajaiban dari Yang Mahatahu,
hai engkau, yang pakaiannya menjadi panas, jika bumi terdiam karena panasnya angin selatan?
Dapatkah engkau seperti Dia menyusun awan menjadi cakrawala, keras seperti cermin tuangan?
Beritahukanlah kepada kami apa yang harus kami katakan kepada-Nya: tak ada yang dapat kami paparkan oleh karena kegelapan.
Apakah akan diberitahukan kepada-Nya, bahwa aku akan bicara? Pernahkah orang berkata, bahwa ia ingin dibinasakan?
Seketika terang tidak terlihat, karena digelapkan mendung; lalu angin berembus, maka bersihlah cuaca.
Dari sebelah utara muncul sinar keemasan; Allah diliputi oleh keagungan yang dahsyat.
Yang Mahakuasa, yang tidak dapat kita pahami, besar kekuasaan dan keadilan-Nya; walaupun kaya akan kebenaran Ia tidak menindasnya.
Itulah sebabnya Ia ditakuti orang; setiap orang yang menganggap dirinya mempunyai hikmat, tidak dihiraukan-Nya."
Komentar
Posting Komentar